<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>andriyawan &#62;&#60; pendidikan dasar</title>
	<atom:link href="http://andriyawan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andriyawan.wordpress.com</link>
	<description>education is our passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today (malcom x)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Dec 2009 07:10:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='andriyawan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f5e9087f67cc9a71ca847c828694f925?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>andriyawan &#62;&#60; pendidikan dasar</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://andriyawan.wordpress.com/osd.xml" title="andriyawan &#62;&#60; pendidikan dasar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://andriyawan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Upaya Mencegah Kecemasan Siswa di Sekolah</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/upaya-mencegah-kecemasan-siswa-di-sekolah/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/upaya-mencegah-kecemasan-siswa-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 00:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum dan Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[mencegah kecemasan siswa di sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=273&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.</p>
<p>Adalah Sigmund Freud, sang pelopor Psikoanalisis yang banyak mengkaji tentang kecemasan ini. Dalam kerangka teorinya, kecemasan dipandang sebagai komponen utama dan memegang peranan penting dalam dinamika kepribadian seorang individu. <span id="more-273"></span></p>
<p>Freud (Calvin S. Hall, 1993) membagi kecemasan ke dalam tiga tipe:</p>
<p>1. Kecemasan realistik yaitu rasa takut terhadap ancaman atau bahaya-bahaya nyata yang ada di dunia luar atau lingkungannya.</p>
<p>2. Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting (dorongan Id) akan lepas dari kendali dan menyebabkan dia berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan neurotik bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang akan menimpanya jika suatu insting dilepaskan. Kecemasan neurotik berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas, jika dia melakukan perbuatan impulsif.</p>
<p>3. Kecemasan moral yaitu rasa takut terhadap suara hati (super ego). Orang-orang yang memiliki super ego yang baik cenderung merasa bersalah atau malu jika mereka berbuat atau berfikir sesuatu yang bertentangan dengan moral. Sama halnya dengan kecemasan neurotik, kecemasan moral juga berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas jika dia melakukan perbuatan yang melanggar norma</p>
<p>Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik, yang akan menjadikan seseorang merasa tak berdaya, dan serba kekanak-kanakan. Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ia akan kembali pada cara-cara yang tidak realistik yang dikenal istilah mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism), seperti: represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi. Semua bentuk mekanisme pertahanan diri tersebut memiliki ciri-ciri umum yaitu: (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan dan (2) mereka bekerja atau berbuat secara tak sadar sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi.</p>
<p>Kecemasan dapat dialami siapapun dan di mana pun, termasuk juga oleh para siswa di sekolah. Kecemasan yang dialami siswa di sekolah bisa berbentuk kecemasan realistik, neurotik atau kecemasan moral. Karena kecemasan merupakan proses psikis yang sifatnya tidak tampak ke permukaan maka untuk menentukan apakah seseorang siwa mengalami kecemasan atau tidak, diperlukan penelaahan yang seksama, dengan berusaha mengenali simptom atau gejala-gejalanya, beserta faktor-faktor yang melatarbelangi dan mempengaruhinya. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa gejala-gejala kecemasan yang bisa diamati di permukaan hanyalah sebagian kecil saja dari masalah yang sesungguhnya, ibarat gunung es di lautan, yang apabila diselami lebih dalam mungkin akan ditemukan persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks.</p>
<p>Di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga, sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru. Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, serta sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada siswa.yang bersumber dari faktor manajemen sekolah.</p>
<p>Menurut Sieber e.al. (1977) kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan.</p>
<p>Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:</p>
<p>1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.</p>
<p>2. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan �sense of humor� dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau �joke� yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.</p>
<p>3. Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi �game� atau �ice break� tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.</p>
<p>4. Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.</p>
<p>5. Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.</p>
<p>6. Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.</p>
<p>7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.</p>
<p>8. Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.</p>
<p>9. Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.</p>
<p>10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.</p>
<p>Melalui upaya � upaya di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai bentuk kecemasan dan mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada gilirannya dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.</p>
<p><em>Penulis : akhmad sudrajat<br />
Wibsite : www.akhmadsudrajat.wordpress.com</em></p>
<br />Posted in Artikel dan Opini, Kurikulum dan Pembelajaran Tagged: mencegah kecemasan siswa di sekolah, pendidikan anak, psikologi anak <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=273&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/upaya-mencegah-kecemasan-siswa-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Dalam Kandung</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/pendidikan-dalam-kandung/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/pendidikan-dalam-kandung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 00:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan dalam kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Seorang perempuan telah dianugerahi oleh Allah SWT untuk menyandang gelar sebagai seorang ibu, tatkala statusnya telah menjadi seorang istri, maka iapun harus menyiapkan mental agar mampu menjadi seorang ibu yg baik, shalehah, mampu merawat dan menjaga anak-anaknya sebagai amanah dari Allah SWT. Menjaga anak-anak sebagai amanah dari Allah tidak dilakukan setelah ibu melahirkan, tapi ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=267&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang perempuan telah dianugerahi oleh Allah SWT untuk menyandang gelar sebagai seorang ibu, tatkala statusnya telah menjadi seorang istri, maka iapun harus menyiapkan mental agar mampu menjadi seorang ibu yg baik, shalehah, mampu merawat dan menjaga anak-anaknya sebagai amanah dari Allah SWT.</p>
<div>
<p>Menjaga anak-anak sebagai amanah dari Allah tidak dilakukan setelah ibu melahirkan, tapi ketika si ibu dalam proses pembuahan, sudah dimulai proses pendidikan yaitu dengan cara berdo’a terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan suami istri. Sehingga setelah dinyatakan hamil, proses pendidikan dalam kandungan untuk janin yg ada di dalam rahim akan segera dimulai, <span id="more-267"></span> para calon ibu perlulah mempelajari hal-hal yg dianjurkan bagi ibu hamil untuk melakukan proses pendidikan dalam kandungan, bila proses pendidikan dilakukan ketika bayi telah lahir atau ketika ia sudah mulai berbicara, bahkan ketika ia hendaka memasuki masa sekolah, maka dikatakan bahwa proses pendidikan ada telah terlewat dalam waktu yang bisa dikatakan tidak sebentar.</p>
<p>Menurut penelitian ilmiah terbaru, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, otak dan indera<a href="http://pendidikankita.com/?content=article_detail&amp;idb=35"></a> pendengaran anak sudah mulai berkembang, mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan antara lain emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu, juga nutrisi yang ibu konsumsi, harus terjaga agar selama hamil, tidak stress, karena stress dapat berpengaruh terhadap bayi yang sedang dikandung. Ibu hamil yang stress dapat melahirkan bayi yang bermasalah, juga asupan gizi yang tidak sehat akan dapat mempengaruhi otak janin, hal tersebut dapat terlihat setelah dilahirkan, atau ketika ia tumbuh besar.</p>
<p>Setiap ibu dipastikan menginginkan bayinya lahir dengan selamat, tumbuh dengan sehat dan cerdas, maka untuk mendapatkan hal itu, seorang ibu bisa memulainya dengan mendidik bayi dalam kandungan.</p>
<p>Pada dasarnya pendidikan dalam kandungan berarti mendidik ibu yang sedang mengandung bayinya yang secara garis lurus akan tertuju pada bayi yang sedang di kandung. Berikut ini beberapa point pendidikan dalam kandungan yang dapat dijalani semua ibu yang sedang mengandung maupun yang belum. diantaranya:</p>
<p>1.  Berpikir positif dan berperang melawan emosi diri sendiri, berusaha menjaga keharmonisan dengan pasangan dan berusaha menghindari konflik dengan pasangan, dengan demikian Insya Allah akan melahirkan bayi-bayi yang kuat. Sebaliknya bila ibu berpikir negatif dan tidak berusaha menghindari konflik, maka akan lahir bayi-bayi yang lemah dan akan berpengaruh pada emosi kejiwaan mereka.<br />
2. Stimulasi kandungan dengan elusan dan tepukan halus, bisa dilakukan ketika si janin mulai menendang perut ibu, balaslah dengan tepukan halus dimana ia menendang. hal ini akan mengajarkan kepadanya bahwa setiap tindakannya akan mendapat respon dari ibunya.<br />
3. Selalu mengajak bayi ibu berbicara, semakin ibu komunikatif, semakin cepat bayi belajar untuk mengerti setiap kata yang ibu sampaikan, karena di dalam perut ibu, indera pendengaran bayi sudah mulai berfungsi.<br />
4. Perbanyak ibadah, ini merupakan hal terpenting dalam kehidupan kita, apalagi bila ibu sedang mengandung, ada kehidupan lain di dalam perut ibu, hanya Allah yang mampu memberikan itu semua, perbanyaklah ibadah, sering-seringlah mengaji, baik untuk ketenangan bayi yang ada dalam kandungan ibu atau untuk ketenangan ibunya sendiri. Alunan suara ibu yang sedang mengaji, akan membuat bayi tenang juga menstimulasi otak dan pendengarannya.<br />
5. Ibu yang sedang mengandung,dianjurkan mengkonsumsi makanan yang halal, bergizi, berprotein tinggi,dianjurkan pula untuk menghindari makanan yang haram, makanan junk food(makanan sampah), makanan instant, minuman berkafein seperti kopi, danjuga rokok (baik aktif maupun pasif) Cobalah bicarakan dengan pasangan ibu yang perokok, katakan bahwa ini semua demi bayi yang akan lahir agar menjadi anak yang sehat, karena semua orang tua mendambakan bayi yang lahir sehat dan sempurna<br />
6. Mencari pasangan yang tepat, bagi perempuan yang belum menikah, bukan berarti tidak memikirkan hal ini (pendidikan dalam kandungan), karena mencari pasangan yang tepat untuk hidup anda kelak, merupakan tolak ukur dalam pendidikan terhadap anak anda nantinya, pasangan yang tepat akan sangat membantu anda dalam melakukan proses pendidikan sejak anda mengandung buah hati tercinta.</p>
<p>Pendidikan dalam kandungan dapat juga dikatatakan pendidikan pra-lahir, “sebelum dilahirkan”, adalah suatu hal yang biasa terjadi bahwa dalam perkembangan janin banyak sel otak yang mati, stimulasi pra-lahir memberi otak suatu kesempatan untuk memanfaatkan sel-selnya sebelum kelahiran, artinya memberi bayi kapasitas otak total yang lebih besar dan suatu langkah maju yang nyata dalam kehidupan.<br />
Stimulasi pra-lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan mental bayi yang akan dilahirkan. Berikut hal-hal yang di dapat oleh bayi yang mendapatkan stimulasi pra-lahir:</p>
<p>1.    Tampaknya ada suatu masa kritis dalam perkembangan bayi yang dimulai pada usia   sekitar 5 bulan sebelum dilahirkan dan berlanjut hingga usia 2 tahun ketika stimulasi otak dan latihan-latihan intelektual dapat meningkatkan kemampuan mental bayi.<br />
2. Stimulasi pra-lahir dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan.<br />
3.   Bayi-bayi yang mendapatkan stimulasi pralahir dapat lebih mampu mengontrol gerakan-gerakan mereka dan lebih siap untuk menjelajahi juga mempelajari lingkungan setelah mereka dilahirkan.<br />
4.    Para orangtua yang telah berpartisipasi dalam program pendidikan pra-lahir menggambarkan anak mereka lebih tenang, waspada, dan bahagia.</p>
<p>Bayi-bayi yang selama dalam kandungan selalu mendapat perhatian, selalu diajak berbicara, biasanya lebih penuh perhatian (terutama terhadap suara ibu atau orang tua mereka) dan lebih termotivasi untuk belajar. Proses belajar pada bayi apalagi janin memang tidak sama dengan belajar, seperti halnya belajar formal, tapi belajar yang dialami janin merupakan proses belajar dari yang sesungguhnya, yang terkadang terlupakan atau tak terberikan. Semoga semua ibu sadar bahwa proses pembelajaran bagi seorang manusia adalah saat ia berada dalam kandungan.</p>
<p>Sumber referensi:<br />
 cara pintar &amp; bijak mendidik anak,esti sukapsih S.Pd,yogyakarta,2008<br />
 cara baru mendidik anak sejak dalam kandungan,F.Rene Van de Carr,M.D. dan Marc  Lehrer,Ph.D,kaifa,bandung,2008</p>
<p>Oleh: Endang ratnasari S.Pd.I<br />
PendidikanKita.Com Team</p>
</div>
<br />Posted in Artikel dan Opini, Catatan Kecil Tagged: pendidikan anak, pendidikan dalam kandungan, psikologi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=267&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/pendidikan-dalam-kandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang Dipelajari Anak di Sekolah</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/apa-yang-dipelajari-anak-di-sekolah/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/apa-yang-dipelajari-anak-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 23:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum dan Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[yang dipelajari anak di sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Cica mencuci cangkir dan piring “Cuci tanganmu sebelum makan,Cica!” kata Ibu “Ya, Bu,” jawab Cica. “Coba cari adikmu!” Cica mencari adiknya. Adik Cica sedang membaca. “Badanmu kotor, Yun. Bersihkan dulu badanmu!” “Ya, Kak,” kata Yuyun. Mereka biasa hidup bersih. Bersih itu sehat. Teks dialog tanpa judul tersebut terdapat dalam buku Aku Cinta Bahasa Indonesia terbitan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=264&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Cica mencuci cangkir dan piring<br />
“Cuci tanganmu sebelum makan,Cica!” kata Ibu<br />
“Ya, Bu,” jawab Cica.<br />
“Coba cari adikmu!” Cica mencari adiknya. Adik Cica sedang membaca.<br />
“Badanmu kotor, Yun. Bersihkan dulu badanmu!”<br />
“Ya, Kak,” kata Yuyun.<br />
Mereka biasa hidup bersih. Bersih itu sehat.</p>
<p>Teks dialog tanpa judul tersebut terdapat dalam buku Aku Cinta Bahasa Indonesia terbitan Tiga Serangkai Solo (2002).<br />
Buku ini dimiliki oleh hampir setiap siswa kelas satu di beberapa sekolah dasar di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang<br />
menjadikan buku ini sebagai buku utama dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Teks di atas memang dibuat untuk siswa<br />
kelas satu SD yang sedang belajar membaca permulaan, yang biasanya terfokus pada latihan melisankan bacaan mulai<br />
dari melafalkan huruf, suku kata, kata dan kalimat secara benar, jelas dan lancar. <span id="more-264"></span> Tetapi apakah dengan demikian teks<br />
boleh dibuat sembarangan tanpa mempertimbangkan logika berbahasa? Perhatikan saja urutan deskripsi peristiwanya.<br />
Bagi umumnya anak-anak, logika peristiwa yang lebih mudah dipahami tentunya mencuci cangkir dan piring dilakukan<br />
setelah makan, bukan sebelum makan seperti pada bacaan di atas. Juga lebih mudah dipahami jika badan adik kotor<br />
ketika sedang bermain pasir atau tanah, bukan ketika sedang membaca . Sementara itu dalam buku pelajaran Bahasa<br />
Indonesia untuk siswa kelas lima SD, Bina Bahasa Indonesia terbitan Erlangga Bandung (2003) terdapat teks bacaan<br />
seperti berikut:</p>
<p><strong>Wajib Belajar</strong></p>
<p><strong></strong>Desa kelahiran orang tua Indri tergolong tandus. Penduduk hanya panen setahun sekali. Itu pun kalau ada air hujan. Hasil<br />
pertanian penduduk umumnya singkong dan ubi jalar. Keadaan seperti itu bukan menandakan penduduknya miskin.<br />
Justru penduduknya tergolong makmur. Banyak hal yang dapat mereka kerjakan. Kaum ibu membentuk Home Industry<br />
atau Industri Rumah Tangga Jika kita masuk ke toko suvenir, hampir semua suvenir di sana adalah karya ibu-ibu. Begitu<br />
pula kalau kita berbelanja kue-kue tradisional. Semua itu hasil dari desa kelahiran ibunya Indri. Bagaimana dengan<br />
aktivitas bapak-bapak dan para remaja? Di sana tidak kita jumpai penduduk yang duduk di pojok gang atau di warung<br />
kopi. Konon sebagian besar remaja bekerja di kota lain. Mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk membeli<br />
sawah dan menyekolahkan adik-adik mereka. Jika ada anak usia sekolah berkeliaran pada waktu tersebut, setiap orang<br />
wajib menegur. Jika ternyata orang tua atau kakaknya yang menyuruh, pasti mendapat sanksi.</p>
<p>Teks bacaan ini berada dalam salah satu bab berjudul Membaca Pemahaman, yakni bab yang khusus dibuat untuk<br />
melatih siswa memahami bacaan. Setelah teks, diajukanlah pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan isi teks seperti: apa<br />
mata pencaharian ibu-ibu, apa yang dilakukan para remaja, mengapa penduduk desa makmur, bagaimana<br />
kesimpulanmu mengenai hasil perjuangan penduduk. Setelah itu pembahasan untuk memahami teks pun selesai.<br />
Kalaupun siswa dapat menjawab semua pertanyaan tersebut secara benar sesuai dengan isi bacaan, yakinkah kita<br />
bahwa mereka telah belajar memahami bacaan secara benar pula? Kita pasti tidak yakin akan keberhasilan<br />
pembelajarannya jika teks yang mereka baca adalah teks seperti tersebut di atas.</p>
<p>Dengan mempertimbangkan logika bahasa yang baik atas sebuah teks, perlu dipertanyakan dimana kita bisa temukan<br />
gagasan pokok yang dimaksud oleh judul yakni wajib belajar, sementara sebagian besar teks membahas industri rumah<br />
tangga ? Lalu jika kita perhatikan kalimat pada alinea terakhir, “mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk<br />
membeli sawah…?” , tentulah timbul pertanyaan, sawah mana yang dibeli? Sebuah kalimat yang kontradiktif dengan<br />
deskripsi pada alinea pertama. Dimana ada sawah jika kondisi desa dilukiskan sangat tandus dan hanya bisa<br />
menghasilkan singkong dan ubi jika ada hujan ?</p>
<p>Teks-teks bacaan yang buruk dalam pengaturan logika berbahasa seperti ini cukup banyak terdapat dalam buku-buku<br />
pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak-anak SD. Kekacauan logika terlihat mulai dari teks yang tidak memiliki judul, judul<br />
yang kurang menggambarkan isi teks, alinea yang tidak jelas gagasan utamanya, kalimat-kalimat dalam alinea yang tidak<br />
padu, dan sebagainya. Teks dialog penuh dengan tanya-jawab basa-basi tak bermakna. “Selamat pagi Firman”. “Selamat<br />
pagi Indri”. “Kamu sudah baca pengumuman belum?” “Pengumuman apa? Dimana? Aku belum membacanya tuh.” Dan<br />
seterusnya. Teks bacaan dan dialog dengan kualitas seperti ini umumnya teks yang dibuat sendiri oleh penulis buku yang<br />
biasanya adalah para guru atau sarjana ilmu pendidikan.</p>
<p>Kondisi yang memprihatinkan dari teks-teks bacaan buku pelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terjadi pada logika<br />
berbahasa, tetapi juga pada pilihan tema. Tema kebersihan dan kesehatan mulai dari mandi, sikat gigi, menyapu,<br />
mengepel, membuang sampah, menanami halaman rumah, kerja bakti di kampung, pemberantasan nyamuk, makan<br />
sayur, muncul berkali-kali dalam banyak bacaan terutama untuk siswa kelas satu sampai kelas tiga.</p>
<p>Tema yang tidak menarik, tidak menumbuhkan minat seperti ini menjadi semakin membosankan karena dibahas<br />
berulang-ulang. Sementara teks buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas empat hingga kelas enam, sarat<br />
dengan tema program pemerintah dan konsep-konsep yang terlalu kompleks untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah<br />
dasar seperti urbanisasi dan gerakan kembali ke desa, transmigrasi, ekonomi koperasi, perlindungan tenaga kerja, krisis<br />
moneter, cara-cara memberantas hama, dan sebagainya. Teks bacaan dengan tema seperti itu disajikan dengan bahasa<br />
penyuluhan sehingga tidak menimbulkan kesan yang bermakna bagi siswa. Apalagi kondisi di lapangan memperlihatkan<br />
kecenderungan guru-guru juga terbatas wawasannya mengenai program-program pemerintah tersebut.</p>
<p>Salah satu contoh teks berisi tema program pemerintah adalah teks dialog bejudul Posko Korban Banjir dalam buku<br />
pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SD kelas tiga. (Tim Bina Karya Guru, Bina Bahasa Indonesia 3A, Penerbit<br />
Erlangga, 2000, hal 134-135). Dengan maksud menanamkan kesan dan makna kepada siswa, teks dialog ini harus<br />
diperagakan sebagai permainan peran. Latar belakang dialog adalah rapat di Balai desa, tokoh yang diperankan adalah<br />
Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan dokter Puskesmas. Teks berisi tanya jawab antara ketiga tokoh seputar kondisi<br />
pengungsi, kesiapan Puskesmas, dan kesiapan dapur umum. Bisa kita bayangkan bagaimana canggungnya anak-anak<br />
usia 10 tahun kelas tiga SD memainkan peran aparat pemerintahan desa. Terbayang pula bagaimana repotnya guru-guru<br />
memandu siswa masuk ke suasana rapat desa yang menjadi konteks dialog itu. Setelah teks, siswa diminta<br />
menyebutkan nama tokoh, sifat-sifat mereka dan alasan mengapa menyebutkan sifat itu. Bagaimana mungkin siswa<br />
dapat menggambarkan sifat tokoh dari dialog singkat tidak lebih dari 25 kalimat, dari sebuah peristiwa rapat di Balai Desa<br />
yang berlangsung datar-datar saja tanpa dinamika, dan tanpa pelukisan karakter tokoh-tokohnya? Kesan dan makna apa<br />
yang bisa diharapkan muncul dari anak-anak kelas tiga SD dari bacaan dan dialog dengan tema yang sama sekali tidak<br />
mengundang minat semacam ini? Contoh-contoh di atas memperlihatkan kepada kita bahwa materi pembelajaran<br />
bahasa di kalangan siswa sekolah dasar sulit diharapkan dapat berperan dalam meletakkan bahasa sebagai sarana<br />
berolah pikir dan sarana ekspresi.</p>
<p>Anak-anak mulai mempelajari konsep-konsep ilmu sosial pada saat duduk di kelas 3 SD. Diawali dengan mengenal<br />
lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sekolah, lingkungan tetangga sekitar dan seterusnya. Apa yang digambarkan<br />
oleh buku-buku pelajaran IPS kelas 3 SD tentang lingkungan tetangga ? Keadaan wilayah RT yang satu mungkin berbeda<br />
dengan keadaan wilayah RT yang lain. Ada wilayah RT yang terletak di tanah datar, ada yang di tanah berbukit. Wilayah RT<br />
di daerah perkotaan umumnya terletak di atas tanah datar. Wilayah RT yang terdapat di daerah pedesaan sebagian<br />
terletak di atas tanah berbukit. Wilayah RT 06/ RW 03 terletak di daerah perkotaan. Wilayahnya terdiri atas tanah datar dan<br />
rata. Di sana tidak ada bukit. Juga tidak ada sungai yang mengalir. (IPS Terpadu Kelas 3 SD, Tim Bina Karya Guru Penerbit<br />
Erlangga, 2000).</p>
<p>Dua alinea di atas membuka pembahasan mengenai lingkungan RT, RW, Kelurahan, hingga provinsi. Tanpa ada<br />
penjelasan yang memadai mengenai lembaga RT, tiba-tiba lembaga administratif itu dihubungkan dengan kondisi<br />
geografis yang secara konsep berbeda konteksnya. Deskripsi menjadi lebih kacau dengan kalimat: tidak ada bukit dan<br />
tidak ada sungai di perkotaan. Dalam memperkenalkan konsep-konsep ekonomi, buku pelajaran memulainya dengan<br />
menyebutkan jenis-jenis mata pencaharian. Mata pencaharian penduduk desa bertani, beternak, berkebun. Penduduk<br />
daerah pantai bermatapencaharian sebagai sebagai nelayan. Penduduk kota sebagian besar bekerja sebagai pegawai<br />
negeri, pegawai perusahaan swasta dan perusahaan daerah.</p>
<p>Berbagai jenis mata pencaharian disebutkan bagai sebuah daftar jenis pekerjaan. Konsep “bekerja” itu sendiri tidak<br />
banyak mendapat porsi dalam penjelasannya. “Bekerja” yang merupakan aktivitas ekonomi produksi, menyempit<br />
maknanya menjadi sekedar jenis pekerjaan. Tidak ada gambaran yang memadai mengenai proses. Peran Guru<br />
Deskripsi isi buku di atas hanya merupakan cuplikan kecil saja dari seluruh isi buku pelajaran yang dipakai anak-anak di<br />
sekolah dasar. Buku pelajaran adalah media pembelajaran yang paling umum dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia.<br />
Jika isi buku pelajaran kondisinya sangat buruk, kita tentu berharap guru dapat berperan menutup kelemahannya,<br />
misalnya dengan memberikan bahan bacaan lain yang lebih baik atau menyusun sendiri bahan bacaan yang diperlukan.<br />
Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Dari pengalaman penulis bergaul dengan para guru sekolah dasar dan<br />
mengamati keseharian mereka dalam mengajar siswa, ada kecenderungan yang memprihatinkan yakni ketergantungan<br />
guru yang sangat tinggi terhadap buku pelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas. Ketergantungan ini mematikan<br />
daya kritis guru terhadap kualitas isi buku pelajaran.</p>
<p>Ketergantungan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, sebagian besar guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai<br />
mengenai teks yang baik. Kedua, sebagian besar guru memiliki minat baca yang rendah sehingga sulit bagi mereka untuk<br />
berkreasi menyusun sendiri bahan pelajaran untuk siswa. Ketiga, akses mereka terhadap bahan bacaan sangat terbatas.<br />
Dana untuk buku tidak ada, perpustakaan sekolah tidak tersedia dan sekolah tidak punya referensi bacaan yang memadai<br />
selain koran. Kondisi menjadi lebih parah karena waktu di luar jam sekolah lebih banyak digunakan para guru untuk<br />
memberikan les privat dalam rangka menyiasati pendapatan yang rendah.</p>
<p>Kondisi kurang kritisnya guru terhadap kualitas teks antara lain juga tampak pada hasil penelitian staf pengajar FKIP<br />
Universitas Terbuka, Suparti dkk tentang persepsi guru terhadap penggunaan buku teks Bahasa Indonesia SD di<br />
Kabupaten Jombang. (Jurnal Pendidikan Vol.3 No 1, Maret 2002, Lemlit UT). Dalam hal persepsi terhadap isi buku, para<br />
guru lebih menyoroti kualitas gambar yang kurang menarik, daripada kualitas teks. Yang terjadi kemudian, lebih penting<br />
bagi guru adalah menyelesaikan pembahasan materi yang ada di dalam buku pelajaran tepat pada waktunya. Kalau bisa<br />
lebih cepat sehingga lebih banyak waktu bisa dicurahkan untuk mengajak siswa berlatih mengerjakan soal. Soal-soal pun<br />
diambil dari buku pelajaran itu lagi, atau buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit lain yang isinya nyaris sama.<br />
Wacana guru dan siswa akhirnya hanya berkembang sebatas apa yang ada di buku pelajaran. Bagi umumnya guru, buku<br />
dianggap sudah lengkap mewakili konten kurikulum dan organisasi materi sehingga mereka seringkali merasa kurang<br />
aman kalau tidak mengikutinya. (Arsyar, 1989). Dampak pada Anak-anak Kualitas isi buku yang rendah ditambah dengan<br />
kemampuan guru yang kurang memadai, sangat tidak mendukung perkembangan kemampuan literasi dan pemahaman<br />
siswa.</p>
<p>Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan<br />
Pengembangan Depdiknas menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan.<br />
Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks<br />
yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas 2 Juli 2003).</p>
<p>Sangat menyedihkan mengingat kemampuan membaca dan menulis merupakan kompetensi paling dasar yang<br />
dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuan dan meraih kompetensi yang lain. Membaca buku yang tidak<br />
menarik dan sulit dicerna isinya, menjadi beban berat bagi anak-anak. Yang kemudian dilakukan akhirnya hanya<br />
menghafal saja isi buku. Kebiasaan menghafal menumpulkan daya nalar dan kreativitas dalam memecahkan masalah<br />
dan menghasilkan karya cipta. Penghafalan juga mematikan rasa ingin tahu, padahal keingintahuan adalah kunci dari<br />
eksplorasi dalam perkembangan ilmu. Banyak penelitian mengungkapkan, kesulitan paling besar yang dhadapi siswa<br />
dalam memecahkan soal matematika berbentuk cerita adalah dalam membuat model atau memetakan masalahnya dan<br />
membuat kalimat matematika. (Hilum, 1997). Ini menunjukkan bahwa kemampuan analisa anak-anak sangat rendah<br />
akibat tidak berkembangnya logika berpikir. Kebiasaan menghafal diperkuat oleh dorongan yang diberikan para guru.<br />
Karena wawasan yang terbatas mengenai bahan yang diajarkan, guru juga selalu mendorong anak-anak untuk menghafal<br />
saja apa yang ada di buku. “Jangan cuma dibaca teksnya. Latihan-latihan soal juga harus dikerjakan. Hafalkan<br />
jawabannya. Ibu kan sudah berkali-kali mengingatkan soal-soal itu nanti pasti keluar waktu ujian,” kata seorang guru<br />
PPKn (pendidikan kewarganegaraan) kepada siswa-siswa kelas enam.</p>
<p>Seorang anak bisa saja hafal nama tokoh pahlawan dan tahun kejadian, tetapi belum tentu paham apa yang membuat<br />
para pahlawan memberontak, melawan dan berjuang. Buku pelajaran sejarah hanya memuat nama tokoh,tahun kejadian,<br />
urut-urutan kejadian, tanpa memberi penjelasan logis latar belakang terjadinya peristiwa-peristiwa itu. Buku Pelajaran,<br />
Kurikulum dan Pendidikan Tradisional Sebagai salah satu media pembelajaran, buku pelajaran memang harus<br />
memenuhi validitas kurikuler yakni disusun sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Dapat dikatakan, buku pelajaran<br />
mencerminkan kurikulum.</p>
<p>Jika kondisi buku pelajaran sekolah anak-anak sangat memprihatinkan seperti terpapar di atas, bagaimana dengan<br />
kurikulum pendidikan kita ? Kurikulum di Indonesia baru mulai populer pada tahun 1950an, dan digunakan oleh mereka<br />
yang memperoleh pendidikan Barat. Definisi kurikulum beragam. Dalam arti sempit, kurikulum didefinisikan sebagai “a<br />
plan for learning”, sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak-anak di sekolah. Namun para ahli pendidikan<br />
saat ini mendefinisikan kurikulum secara lebih luas, yakni semua pengalaman dan pengaruh yang diperoleh anak di<br />
sekolah.</p>
<p>Konsep kurikulum adalah konsep pendidikan moderen, pendidikan formal sekolah. Konsep kurikulum tidak dikenal dalam<br />
pendidikan tradisional yang ada di masyarakat, baik sosialisasi maupun pendidikan agama atau pendidikan ketrampilan.<br />
Pendidikan tradisional tidak memerlukan kurikulum, tidak memerlukan perencanaan karena tujuannya adalah<br />
mewariskan nilai dan tradisi, Materi pendidikannya relatif tetap dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan<br />
formal sekolah memerlukan kurikulum karena tujuan pendidikannya bukan sekedar mewariskan pengetahuan dan<br />
ketrampilan secara turun temurun kepada anak-anak.</p>
<p>Tujuan pendidikan sekolah lebih luas dan kompleks karena dituntut selalu sesuai dengan perubahan. Kurikulum harus<br />
selalu diperbarui sejalan dengan perubahan itu. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan, kurikulum harus<br />
disusun secara strategis dan dirumuskan menjadi program-program tertentu. Karena harus selalu relevan dengan<br />
perubahan masyarakat, penyusunan kurikulum harus mempertimbangkan berbagai macam aspek seperti perkembangan<br />
anak, perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja dan sebagainya.</p>
<p>Kondisi materi buku pelajaran yang memprihatinkan seperti digambarkan di atas, menunjukkan betapa kurikulum<br />
pendidikan sekolah yang ada saat ini belum disusun dan direncanakan dengan baik. Hal ini terjadi kemungkinan<br />
disebabkan oleh pertama, kelemahan manajemen perencanaan di tingkat operasional, dalam hal ini Pusat Kurikulum.<br />
Kedua, visi dan tujuan pendidikan belum dirumuskan secara jelas sehingga menimbulkan kebingungan dalam<br />
menerjemahkannya ke dalam strategi dan program. Ketiga, masih kuatnya pengaruh sistem pendidikan tradisional yang<br />
cenderung tidak responsif terhadap perubahan membuat sistem pendidikan sekolah cenderung hanya mengadopsi<br />
aspek formalitasnya sementara esensi sistem yang bersifat dinamis belum terbentuk.</p>
<p><span style="font-size:xx-small;">Pustaka Arsyar, Mohammad (1989). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK Ditjen PT Departemen P&amp;K.<br />
Kompas (2003). Kemahiran Baca di Indonesia Menyedihkan. (2 Juli 2003)<br />
Mulder, Niels (2001). Indonesian Images. Yogyakarta: Kanisius<br />
Nasution, S (1986). Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars<br />
Hilum, Rium (1997). Pengaruh Kemampuan Memecahkan Masalah-masalah cerita dalam aljabar terhadap prestasi siswa. Skripsi S1 FMIPA<br />
IKIP Yogyakarta.<br />
Supriadi, Dedi (2001). Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adicita<br />
Shaver, James P ed. (1991). Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. New York: National Council for the Social<br />
Studies.<br />
Anis Suryani<br />
Sumber: http://antropologi.fib.ugm.ac.id/artdetail.php?id=14</span></p>
<br />Posted in Artikel dan Opini, Kabar Dunia Pendidikan, Kurikulum dan Pembelajaran Tagged: pembelajaran, sekolah, yang dipelajari anak di sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=264&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/12/apa-yang-dipelajari-anak-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kabupaten Kuningan Canangkan Program &#8220;One Man One Tree&#8221;</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/kabupaten-kuningan-canangkan-program-one-man-one-tree/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/kabupaten-kuningan-canangkan-program-one-man-one-tree/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 06:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[one man one tree]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Kondisi geomorfologis yang dimiliki oleh Kabupaten Kuningan menempatkan Kabupaten Kuningan pada posisi dan peran yang signifikan sebagai daerah penyangga bagi kabupaten sekitarnya. Pendeklarasian kabupaten kuningan sebagai kabupaten konservasi dapat dimaknai sebagai satu milestone dalam uapaya pengokohan dan penegasan kabupaten kuningan sebagai kabupaten yang memiliki consen tinggi terhadap upaya-upaya pelestaraian sumber daya alam. Komitmen ini perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=244&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kondisi geomorfologis yang dimiliki oleh Kabupaten Kuningan menempatkan Kabupaten Kuningan pada posisi dan peran yang signifikan sebagai daerah penyangga bagi kabupaten sekitarnya. Pendeklarasian kabupaten kuningan sebagai kabupaten konservasi dapat dimaknai sebagai satu milestone dalam uapaya pengokohan dan penegasan kabupaten kuningan sebagai kabupaten yang memiliki consen tinggi terhadap upaya-upaya pelestaraian sumber daya alam. </p>
<p>Komitmen ini perlu dipahami dan dibangun bersama oleh semua komponen masyarakat Kabupaten Kuningan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat mobilisasi oleh Pemerintah tidak cukup untuk mewujudkan Kabupaten Konservasi, perlu kesadaran dan partisipasi masyarakat agar makna  “Kabupaten Konservasi” tidak hanya berasal dari gaung kegiatan-kegiatan fisik projek semata namun pemahaman esensi konservasi telah terinternalisasi dalam kehidupan masyarakt dan bisa <span id="more-244"></span> tumbuh sebagai budaya masyarakat Kabupaten Kuningan.</p>
<p>Adapun langkah-langkah yang telah ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mewujudkan Kabupaten Kuningan sebagai Kabupaten Konservasi adalah dengan membangun Kebun Raya Kuningan yang terletak di desa Pada Beunghar Kecamatan Pasawahan, selain itu juga Kabupaten Kuningan telah menetapkan Program-program yang berhubungan langsung dengan pelestarian Lingkungan seperti : Pepeling ( Pengantin Peduli Lingkungan ), PHBM ( Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat ), Muatan Lokal kurikulum pendidikan lingkungan ( SD, SLTP, SLTA ). Rehabilitasi Setu/embung, rehabilitasi Lahan Kritis dan sebagainya. Demikian dikatakan Dendy Warsita dalam laporannya.</p>
<p>Bupati Kuningan dalam kesempatan acara pencanangan  Program One man One Tree (Satu Orang satu Pohon) mengatakan bahwa Kabupaten Kuningan  merupakan Kabupaten penyangga bagi daerah disekitarnya, untuk itu Pemerintah Kabupaten Kuningan akan tetap konsen dengan program pelestarian Lingkungan. Seperti yang terdapat dalam visi kabupaten Kuningan yaitu  “ Kuningan lebih Sejahtera Berbasis Pertanian dan Pariwisata yang Maju dalam Lingkungan Lestari dan Agamis “ kata lestari tersebut merupakan pencerminan dari suasana lingkungan yang lestari tanpa terkontaminasi oleh polusi-polusi yang dihasilkan oleh industri.</p>
<p>Melalui program  One Man One Tree  merupakan  salah satu bukti Kabupaten Kuningan tetap memegang komitmen untuk tetap menjaga lingkungan agar tetap terpelihara dengan baik.</p>
<p>Baru-baru ini Kabupaten Kuningan telah menetapkan Perda tentang pelestarian satwa Burung dan Ikan sebagai salah bukti kepedulian kita terhadap lingkungan. Dan kita juga patut berbangga karena kabupaten Kuningan telah meraih penghargaan Adipura dan Adiwiyata. Satu-satunya tantangan terberat dalam mewujudkan Kabupaten Kuningan sebagai Kabupaten Konservasi adalah menyerasikan  derap kemajuan pembangunan fisik dan ekonomi dengan upaya menjaga lingkungan yang lestari, tegasnya. (Bagian Humas SETDA Kab. Kuningan) <em>(Sumber: www.kabupatenkab.go.id)</em>.</p>
<br />Posted in Berita Global Tagged: kabupaten kuningan, konservasi lingkungan hidup, one man one tree <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=244&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/kabupaten-kuningan-canangkan-program-one-man-one-tree/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru PNS Dapat Rp 250.000/Bulan</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/guru-pns-dapat-rp-250-000bulan/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/guru-pns-dapat-rp-250-000bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 23:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru pns]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[rapel]]></category>
		<category><![CDATA[tunjangan profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Guru-guru berstatus pegawai negeri sipil yang belum mendapat tunjangan profesi akan mendapat tunjangan sebesar Rp 250.000 per bulan. Pemberian tunjangan tersebut diperhitungkan sejak Januari 2009 dan pembayarannya akan dirapel. Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan para guru yang hadir dalam peringatan Hari Guru Nasional 2009 dan Hari Ulang Tahun Ke-64 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=239&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Guru-guru berstatus pegawai negeri sipil yang belum mendapat tunjangan profesi akan mendapat tunjangan sebesar Rp 250.000 per bulan. Pemberian tunjangan tersebut diperhitungkan sejak Januari 2009 dan pembayarannya akan dirapel.  Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan para guru yang hadir dalam peringatan Hari Guru Nasional 2009 dan Hari Ulang Tahun Ke-64 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Jakarta, Selasa (1/12). Pernyataan Presiden itu langsung mendapat sambutan meriah dari perwakilan guru yang datang dari seluruh Indonesia yang hadir dalam acara peringatan tersebut.  ”Pagi tadi saya sudah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2009 tentang Tambahan Penghasilan bagi Guru Pegawai Negeri Sipil. Besarnya Rp 250.000 per bulan, terhitung mulai Januari 2009. Dengan demikian, penghasilan guru terendah sekurang-kurangnya Rp 2 juta per bulan,” kata Susilo Bambang Yudhoyono.  Pemerintah merencanakan 2,75 juta guru pegawai negeri sipil (PNS) dan swasta yang lolos sertifikasi akan <span id="more-239"></span> mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok per bulan.  Menurut Presiden, tunjangan profesi saat ini baru dibayarkan kepada sekitar 350.000 guru. Adapun 2,1 juta guru lainnya yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional serta 400.000 guru di bawah Departemen Agama belum mendapat tunjangan profesi.  Adapun bagi guru non-PNS, yang jumlahnya sekitar 478.000 guru, pemerintah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebesar Rp 200.000 per bulan. Sekitar 30.000 guru yang bertugas di daerah terpencil juga mendapatkan tambahan kesejahteraan.  Profesionalisme guru  Berbagai kebijakan yang diambil pemerintah, lanjut Presiden, merupakan upaya pemerintah untuk mengembangkan profesionalisme guru. ”Tujuannya, untuk meningkatkan empat dimensi pendidikan, yakni keimanan, keilmuan, keterampilan, dan kepribadian,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualifikasi para guru setara S-1 dan diploma IV dengan cara memberikan beasiswa.  Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Sulistiyo menyambut baik keputusan pemerintah yang terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru. Ke depannya Indonesia harus memiliki guru yang profesional, bermartabat, sejahtera, dan terlindungi.  ”Tetapi, tetap jadi pekerjaan rumah bagi kami supaya ada ketentuan soal upah minimum regional (UMR) plus bagi guru. Jangan ada lagi guru yang dibayar Rp 100.000 per bulan. Kami berjuang supaya tahun depan UMR plus guru terwujud. Akhir Desember ini PGRI diajak pemerintah untuk membahas UMR guru,” ujar Sulistiyo.  Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan bahwa peningkatan kualitas pendidikan menjadi tantangan yang dihadapi guru saat ini. Para guru diminta untuk mengembangkan metodologi pembelajaran yang mengembangkan rasa ingin tahu terhadap pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan kepribadian.  Diskriminatif  Secara terpisah, Dede Permana, Koordinator Forum Guru Swasta Jawa Barat, menyatakan bahwa pemberian tunjangan untuk guru PNS menunjukkan, peran dan kontribusi guru swasta sampai saat ini masih tetap dipandang sebelah mata. Bahkan pemerintah terkesan diskriminatif terhadap guru swasta meskipun tugas dan beban mengajar guru swasta sama dengan guru PNS.  ”Kebijakan diskriminatif yang masih dilakukan pemerintah melukai perasaan para guru non-PNS. Padahal dalam UU Guru dan Dosen, guru non-PNS dipandang sama hak dan kewajibannya,” kata Dede.  Dede juga mempertanyakan subsidi tunjangan fungsional sebesar Rp 200.000 per bulan yang dijanjikan untuk guru non-PNS yang hingga kini belum cair. ”Katanya per tiga bulan dibayar. Tapi, guru non-PNS belum pernah menerima di semua daerah,” kata Dede.  Menurut Dede, tidak semua sekolah swasta kondisi keuangannya baik. Banyak sekolah swasta, terutama di daerah, yang visi utamanya mencerdaskan masyarakat miskin. Guru juga diberi honor yang sangat minim. ”Perhatian pemerintah kepada kelompok ini masih minim,” ujarnya. (ELN/DAY)</p>
<p><em>Sumber : www.kompas.com</em></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: guru, guru pns, kompas, rapel, tunjangan profesi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=239&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/02/guru-pns-dapat-rp-250-000bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 11:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman pelaksanaan tugas guru dan pengawas]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman tugas guru]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman tugas pengawas]]></category>
		<category><![CDATA[tugas guru]]></category>
		<category><![CDATA[tugas pengawas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara tegas menyatakan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menyebutkan bahwa guru memiliki beban kerja paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=225&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara tegas menyatakan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menyebutkan bahwa guru memiliki beban kerja paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka per minggu.</p>
<div>Hingga saat ini, belum semua guru dapat melaksanakan tugas ideal sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan beban mengajar paling sedikit 24 jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Hal tersebut terjadi karena kondisi sekolah yang kelebihan guru atau lokasi sekolah yang berada di daerah terpencil. Kelebihan guru terjadi karena ada perubahan kebijakan dalam perencanaan dan rekruitment guru, serta perubahan beban mengajar guru dari paling sedikit 18 jam tatap muka per minggu menjadi 24 jam tatap muka per minggu. Khusus sekolah-sekolah di daerah terpencil, <span id="more-225"></span> pada umumnya peserta didiknya sedikit sehingga mempengaruhi jumlah rombongan belajar (rombel) dan rasio minimal jumlah peserta didik terhadap gurunya.</div>
<div>Sejalan dengan itu, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 53 menyatakan bahwa Menteri, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, dapat menetapkan ekuivalensi beban kerja untuk memenuhi ketentuan bagi guru yang bertugas pada satuan pendidikan layanan khusus, berkeahlian khusus, dan atau dibutuhkan atas dasar pertimbangan kepentingan nasional.</div>
<div>Pada sisi lain, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 17 menetapkan bahwa guru tetap pemegang sertifikat pendidik berhak mendapatkan tunjangan profesi apabila mengajar di satuan pendidikan yang rasio minimal jumlah peserta didik terhadap gurunya sebagai berikut:</div>
<div>a. untuk TK, RA, atau yang sederajat 15:1;</div>
<div>b. untuk SD atau yang sederajat 20:1;</div>
<div>c. untuk MI atau yang sederajat 15:1;</div>
<div>d. untuk SMP atau yang sederajat 20:1;</div>
<div>e. untuk MTs atau yang sederajat 15:1;</div>
<div>f. untuk SMA atau yang sederajat 20:1;</div>
<div>g. untuk MA atau yang sederajat 15:1;</div>
<div>h. untuk SMK atau yang sederajat 15:1; dan</div>
<div>i. untuk MAK atau yang sederajat 12:1.</div>
<div>Data tahun 2009 menunjukkan bahwa rerata rasio guru terhadap peserta didik pada jenjang TK 1:11, SD 1:17, SMP 1:16, SMA 1:15, SMK 1:16, dan SLB 1:22. Namun apabila dilihat secara detail pada jenis guru tertentu di beberapa daerah dilaporkan terdapat kekurangan guru atau kelebihan guru. Kondisi sekolah yang memiliki kelebihan guru akan menyebabkan guru tidak dapat memenuhi kewajiban mengajar 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Sementara sekolah yang kekurangan guru akan menyebabkan beban kerja guru menjadi lebih tinggi dan proses pembelajaran menjadi tidak efektif.</div>
<div>Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan sebagai bagian penjabaran dari Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru mengatur mengenai beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan. Sebagai acuan pelaksanaan di lapangan maka perlu disusun buku pedoman pemenuhan beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan sebagaimana tertuang dalam pasal 6 Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan dimaksud.<em> (Sumber : http://www.dikmenum.go.id).</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div>Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang isi buku pedoman tersebut, silahkan klik link di bawah ini:</div>
<div><strong><a href="http://andriyawan.files.wordpress.com/2009/12/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas.pdf" target="_blank">Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas</a></strong></div>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">KATA PENGANTAR</p>
<p>Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tanggal 30 Juli tahun<br />
2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan<br />
Pendidikan merupakan implementasi dari amanat Undang-undang Nomor<br />
14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor<br />
74 Tahun 2008 Tentang Guru, khususnya yang berkaitan dengan tugas<br />
guru dan pengawas.<br />
Agar pemenuhan tugas guru dan pengawas dapat direalisasikan dengan<br />
baik, maka perlu pemahaman yang sama antara berbagai pihak yang<br />
berkepentingan. Untuk itu diperlukan sebuah pedoman yang dapat menjadi<br />
acuan bagi guru, pengawas, kepala sekolah, dinas pendidikan<br />
kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi, dan unsur lain yang terkait<br />
dengan pelaksanaan tugas guru dan pengawas.<br />
Buku ini disusun sebagai acuan dalam pelaksanaan pemenuhan kewajiban<br />
guru dan pengawas satuan pendidikan sebagaimana tertuang dalam pasal<br />
6 Permendiknas Nomor 39 dimaksud. Pedoman ini berisi hal-hal yang<br />
berkaitan dengan beban kerja guru, perhitungan beban kerja guru, cara<br />
pemenuhan wajib mengajar, dan tugas tambahan yang dapat<br />
diekuivalensikan sebagai tatap muka pada kondisi khusus, serta<br />
ekuivalensi tugas dan beban kerja pengawas.<br />
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya<br />
kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan<br />
pedoman ini.</p>
<p>Untuk lebih lengkapnya tentang isi buku pedoman pelaksanaan tugas guru dan pengawas, silahkan klik link di bawah ini:</p>
<p><strong><a href="../files/2009/12/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas.pdf" target="_blank">Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas</a></strong></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: pedoman, pedoman pelaksanaan tugas guru dan pengawas, pedoman tugas guru, pedoman tugas pengawas, tugas guru, tugas pengawas <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=225&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/pedoman-pelaksanaan-tugas-guru-dan-pengawas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Depdiknas Tetap Gelar Ujian Nasional 2010</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/depdiknas-tetap-gelar-ujian-nasional-2010/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/depdiknas-tetap-gelar-ujian-nasional-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 01:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[BSNP]]></category>
		<category><![CDATA[depdiknas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, (tvOne) Meski Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan menolak kasasi pemerintah atas penyelenggaraan ujian nasional (UN), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tetap menggelar UN pada Maret 2010. Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Mungin Edi Wibowo mengatakan, ujian akan dilakukan dua tahap, yaitu UN utama pada Maret 2010 dan ujian ulangan pada Mei 2010. &#8220;Yang gagal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=209&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, (tvOne)</p>
<p>Meski Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan menolak kasasi pemerintah atas penyelenggaraan ujian nasional (UN), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tetap menggelar UN pada Maret 2010.</p>
<p>Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Mungin Edi Wibowo mengatakan, ujian akan dilakukan dua tahap, yaitu UN utama pada Maret 2010 dan ujian ulangan pada Mei 2010. &#8220;Yang gagal di ujian utama bisa mengikuti ujian ulangan. Tapi hanya mata pelajaran yang gagal,&#8221; kata Mungin, Senin (30/11/2009).</p>
<p>Mungin melanjutkan, jika kemudian pada ujian ulangan siswa mengalami kegagalan lagi,  maka siswa akan mengikuti ujian paket atau mengulang tahun berikutnya. <span id="more-209"></span> Tujuan ujian ulangan, kata Mungin, untuk mengatasi dampak psikologis anak yang takut gagal ujian.</p>
<p>Ujian nasional ini digelar dengan aturan yang sama. Nilai standar kelulusan 5,5 dan nilai 4 maksimal 2</p>
<p>Berdasarkan jadwal, ujian nasional utama tingkat SMA dan MA digelar pada 22-26 Maret 2010, tingkat SMK 22-25 Maret 2010, dan tingkat SMP pada 29 Maret sampai 1 April 2010. Sementara ujian ulangan akan dilakukan pada 10-14 Mei 2010 untuk tingkat SMA, dan 17-20 Mei 2010 untuk tingkat SMP.</p>
<p>Pemerintah akan memberikan tanda pada ijazah siswa yang mengikuti ujian ulangan. Akan tertulis dua nilai dalam ijazahnya, meliputi pertama nilai mata pelajaran yang gagal, dan nilai pelajaran yang lulus.</p>
<p>Soal putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi pemerintah, menurut Mungin, putusan hanya meminta pemerintah agar memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan, kualitas guru, serta memperhatikan dampak mental anak didik yang gagal dalam ujian nasional. &#8220;Tidak ada kalimat eksplisit yang melarang pemerintah menggelar ujian nasional,&#8221; ujarnya.</p>
<p><em>Sumber : www.tvone.co.id</em></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: BSNP, depdiknas, pendidikan, ujian nasional, UN <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=209&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/depdiknas-tetap-gelar-ujian-nasional-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional Diusulkan Diubah</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/ujian-nasional-diusulkan-diubah/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/ujian-nasional-diusulkan-diubah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 23:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com - Ujian nasional sebaiknya tetap dilaksanakan, tetapi fungsinya diubah. Ujian nasional bukan lagi sebagai penentu kelulusan siswa, tetapi untuk memetakan mutu sekolah. Sekolah yang kualitasnya rendah harus diintervensi pemerintah agar kualitasnya meningkat. Demikian pendapat S Hamid Hasan, ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung; Ferdiansyah, anggota Komisi X DPR RI; serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=207&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA, KOMPAS.com </strong>- Ujian nasional sebaiknya tetap dilaksanakan, tetapi fungsinya diubah. Ujian nasional bukan lagi sebagai penentu kelulusan siswa, tetapi untuk memetakan mutu sekolah. Sekolah yang kualitasnya rendah harus diintervensi pemerintah agar kualitasnya meningkat.</p>
<p>Demikian pendapat S Hamid Hasan, ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung; Ferdiansyah, anggota Komisi X DPR RI; serta Yonny Koesmaryono, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB).</p>
<p>Menurut Hamid Hasan, pemerintah harus berpegang pada standar pendidikan yang telah dibuat. UN diselenggarakan untuk mengetahui apakah standar <span id="more-207"></span> pendidikan tersebut sudah tercapai atau belum oleh sekolah.</p>
<p>”Ketika belum tercapai, jangan lantas muridnya yang disalahkan dengan dinyatakan tidak lulus,” kata Hamid Hasan.</p>
<p>Justru ketika dilakukan UN dan hasilnya rendah, itu menjadi acuan bagi pemerintah untuk mengevaluasi sekolah, mengapa standar pendidikan tidak tercapai. Apakah kualitas guru kurang memadai, fasilitas minim, atau ada persoalan lainnya. ”Di sinilah pemerintah berperan untuk segera membenahinya,” kata Hamid Hasan.</p>
<p>Karena tujuannya untuk pemetaan mutu sekolah, UN tidak harus dilakukan untuk siswa kelas tiga. Justru sebaiknya, UN ditujukan untuk siswa kelas dua sehingga cukup waktu untuk membenahi mutu sekolah.</p>
<p>Guru besar sosiologi pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Ravik Karsidi, mengatakan, persepsi bahwa nilai UN penentu masa depan siswa harus diubah karena mendorong beragam kecurangan. Justru yang lebih penting adalah menghargai minat dan bakat setiap siswa untuk berkembang.</p>
<p>Yonny Koesmaryono, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, mengatakan, jika UN akan dijadikan dasar untuk masuk perguruan tinggi, maka setidaknya untuk tiga tahun ke depan UN jangan dijadikan penentu kelulusan siswa. Namun, UN dijadikan sarana untuk memetakan mutu sekolah. Berdasarkan peta tersebut, Depdiknas lalu meningkatkan mutu sekolah yang masih rendah agar sesuai standar. Setelah itulah baru UN bisa dijadikan salah satu penilaian masuk perguruan tinggi.</p>
<p><strong>Tidak dipercaya</strong></p>
<p>Ferdiansyah mengatakan, UN harus dijadikan sarana untuk meningkatkan mutu sekolah. Karena itu, sekolah yang belum memenuhi standar pendidikan harus dibantu untuk meningkat.</p>
<p>Suparman, Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia, mengatakan, dalam pelaksanaan UN, guru dicitrakan sebagai pihak yang tidak bisa dipercaya karena suka mengatrol nilai siswa, membocorkan soal, dan ingin meluluskan siswa. ”Bagaimana pendidikan kita bisa baik jika guru selalu dalam posisi disalahkan,” kata Suparman. <strong>(ELN/EKI/RTS/COK)</strong></p>
<p><em>Sumber : www.kompas.com</em></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: pendidikan, ujian nasional, UN <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=207&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/ujian-nasional-diusulkan-diubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru Faktor Penentu Utama Dalam Proses Pendidikan</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/guru-faktor-penentu-utama-dalam-proses-pendidikan/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/guru-faktor-penentu-utama-dalam-proses-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 23:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[faktor utama proses pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[hari guru]]></category>
		<category><![CDATA[keteladadan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas), Menyelenggarakan Upacara dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional&#8230; tahun 2009 dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke-64, yang diselenggarakan di lapangan upacara depan Gedung A, Depdiknas, pada Rabu, (25/11). Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2009 dan HUT PGRI ke-64 ini bertemakan &#8220;Memacu Peran Strategis Pemerintah, Pemerintah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=200&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas), Menyelenggarakan Upacara dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional&#8230;</em></p>
<p>tahun 2009 dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke-64, yang diselenggarakan di lapangan upacara depan Gedung A, Depdiknas, pada Rabu, (25/11).</p>
<p>Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2009 dan HUT PGRI ke-64 ini bertemakan &#8220;Memacu Peran Strategis Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat dan Guru dalam Mewujudkan Guru Profesional, Sejahtera, Bermartabat, dan terlindungi&#8221;.</p>
<p>Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, selaku pembina upacara Hari Guru Nasional tahun 2009 ini mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi, dedikasi, komitmen, keikhlasan, dan pengabdian para guru kepada bangsa dan negara. Mendiknas juga berharap <span id="more-200"></span>mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.</p>
<p>Dalam sambutannya, Mendiknas juga mengatakan bahwa dalam memperingati hari-hari besar nasional seperti Hari Guru Nasional ini, sedikitnya mempunyai tiga makna. Pertama, reflektif kesejarahan, yakni merenungkan kembali nilai-nilai kemulyaan yang terkandung dalam Hari Guru yang bisa dijadikan momentum untuk merefleksikan diri terhadap langkah panjang yang telah dilalui terkait dengan cita-cita awal dalam mendorong lahirnya Hari Guru Nasional.</p>
<p>Kedua, introspeksi kekinian adalah upaya untuk introspeksi terhadap perjalanan yang telah dilakukan dalam konteks kekinian. , Ketiga,lanjut Mendiknas, antisipatif futuris, yaitu menatap masa depan yang lebih baik dengan memberikan modal ilmu, modal kepribadian dan modal budaya yang unggul kepada anak-anak sebagai penerus bangsa.</p>
<p>Guru merupakan faktor penentu utama proses pendidikan dan pembelajaran, karena tidak ada guru maka tidak ada pula pendidikan. Sehingga dengan sentuhan guru profesional yang bermartabat, terlindungi, dan sejahtera, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu.</p>
<p>&#8220;Prestasi, keteladanan dan kepeloporan para guru yang telah ditunjukkannya semasa revolusi hingga sekarang merupakan semangat dan tradisi perjuangan yang perlu terus menerus diselaraskan, seiring dengan cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya. Untuk mengantisipasi hal itu, tidak berlebihan kiranya harapan masa depan bangsa Indonesia dipertaruhkan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru&#8221;, kata Mendiknas.(AND) -Sidiknas-</p>
<p>Sumber : <em>www.diknas.go.id</em></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: faktor utama proses pendidikan, hari guru, keteladadan, pendidikan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=200&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/guru-faktor-penentu-utama-dalam-proses-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program 100 Hari Pertama Mendiknas</title>
		<link>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/program-100-hari-pertama-mendiknas/</link>
		<comments>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/program-100-hari-pertama-mendiknas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 23:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andriyawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Global]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[depdikdas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[program 100 hari mendiknas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andriyawan.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Mendiknas Paparkan Program Kerja 100 Hari Depdiknas Jakarta, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh memaparkan program 100 hari kerja. Sesuai arahan Presiden dan kontrak kerja, serta mengacu pada program kerja tahun 2009-2010 sasaran program ini adalah pada program yang berdampak besar dan dapat diselesaikan dengan segera. Sebelum Mendiknas memaparkan program kerja 100 hari, Mendiknas menyampaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=193&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#211196;font-size:medium;">Mendiknas Paparkan Program Kerja 100 Hari Depdiknas</span></strong></p>
<p><em>Jakarta, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh memaparkan program 100 hari kerja.</em></p>
<p>Sesuai arahan Presiden dan kontrak kerja, serta mengacu pada program kerja tahun 2009-2010 sasaran program ini adalah pada program yang berdampak besar dan dapat diselesaikan dengan segera.</p>
<p>Sebelum Mendiknas memaparkan program kerja 100 hari, Mendiknas menyampaikan isu-isu strategis, yakni meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah, keterjangkauan pendidikan berkualitas untuk mengatasi gap yang disebabkan oleh kondisi geografis maupun ekonomis, meminimalisir diskriminasi pendidikan, pendidikan tinggi yang menjawab tantangan global, dan reformasi birokrasi pendidikan.</p>
<p>Pada Program Kerja 100 hari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Mendiknas mengatakan bahwa Program pertama adalah menyediakan internet secara massal di sekolah. &#8220;Januari (2010) ditarget ada 17.500 sekolah harus tersambung internet,&#8221; katanya saat Konferensi pers di ruang sidang mendiknas gedung A, lantai 2 Depdiknas, Jakarta, Jumat (6/11) kemarin.</p>
<p>Program kedua, lanjut Mendiknas, adalah melakukan penguatan kemampuan kepala dan pengawas sekolah melalui pelatihan bagi 30.000 kepala/pengawas sekolah. <span id="more-193"></span>Adapun program ketiga adalah memberikan beasiswa bagi anak-anak lulusan SMA, SMK, dan MA yang kurang mampu, tetapi yang punya prestasi untuk masuk ke perguruan tinggi negeri &#8220;Jumlah totalnya Insya Allah 20.000 untuk tahun akademik 2010-2011,&#8221; katanya.</p>
<p>Kemudian, Mendiknas mengatakan, program keempat adalah mengenai distribusi guru. Depdiknas, kata Mendiknas, akan mengeluarkan kebijakan khusus bagi guru yang bertugas di daerah terdepan dan terpencil. &#8220;Hari Senin kita akan mengundang kepala dinas-kepala dinas terutama yang ada di daerah perbatasan untuk duduk bersama membahas jumlah penduduk  yang ada di daerah perbatasan,&#8221; katanya.</p>
<p>Selanjutnya, Mendiknas menyampaikan, program kelima adalah menyusun dan menyempurnakan Rencana Strategis (Renstra) 2009-2014. Adapun program keenam adalah mengembangkan budaya dan karakter bangsa. Kemudian program ketujuh adalah mengembangkan metodologi belajar mengajar dan program kedelapan adalah membuat radmap sinergitas lembaga pendidikan (Depdiknas-Departemen Agama) dengan pengguna lulusan untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan.(AND) -Sidiknas-</p>
<p><em>Sumber : http://www.diknas.go.id</em></p>
<br />Posted in Berita Global, Kabar Dunia Pendidikan Tagged: depdikdas, pendidikan, program 100 hari mendiknas <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/andriyawan.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/andriyawan.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=andriyawan.wordpress.com&amp;blog=9524801&amp;post=193&amp;subd=andriyawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andriyawan.wordpress.com/2009/12/01/program-100-hari-pertama-mendiknas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cee0423525940d3323d10039db4f659?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">andriyawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
